Kembara Pipit
I
Berat terasa langkah sayap burung pipit ini
Didera angin selatan, utara, timur, dan barat
Akan kemana kembaramu pipit?
Angin itu menantang
“Diriku akan hadir menyongsong fajar
Jikalau senja ini jembatan menuju malam
Semoga purnama itu menjadi kawan”
Guratan sang pipit menanti datangnya malam
Menjadi tetes kerinduan menemukan jawaban
Di bukit itu ia terdiam
Sejenak menanti sekumpulan awan
Sedang angin tetap mendekam
Lalu ia berbisik,
“Tak usah kau tempuh jalan ini
Ini hanyalah fatamorgana yang akan menipumu”
Rupanya sang malam tak rela melepas kegelapannya
Akankah ada cahaya bagimu?
“Cahaya itu akan datang jikalau aku menjemputnya
Disana, dibalik tabir itu ada cahaya diatas cahaya
Dengan setetes saja, malam akan terang untuk selama-lamanya
Hari akan cerah sampai tak ada batasnya
Burung-burung itu, akan berkicau riang menyambutnya
Bahkan seluruh makhluk, akan bersuka ria”
Ah…itu hanya gurauanmu?
Angin itu mendesaknya
Tidak!
Tidak!
Cahaya itu ada
Cahaya itu nyata
Cahaya itu satu
Satu untuk segala-galanya
Hasyim Asy’ari, 25/05/09
II
Alangkah panjang jarak yang kau tempuh
Melewati batas malam tiada bersimpuh
Adakah langkahmu terasa berat?
Bukankah telah ku temukan kawanan burung pelatuk ini
Di setiap ujung jambulnya, adalah obor yang akan menerangi
Bulunya menepis terkaan angin badai
Langkah kakinya menjadi pelindung ganasnya awan
Sayap-sayapnya, adalah induk sekaligus kawan
Di setiap hengkang nafasnya
Ada kata tersembunyi
Satu kalimat Ilahi
Bersemayam dalam jemari
Dengan lantang ia selalu mencecapi
“Allah ma’ani-Allah ma’ani…”
Telah hilang derap ketakutan
Bergeming kerinduan menemukan tujuan
Jika tatapannya masih bertabrakan
Segera ia bersihkan
Dengan air keabadian dari sungai hindustan
Ia usap wajah hingga kakinya
Dan segera ia berdiri
Menghadap khusyu kehadirat Ilahi
Hasyim Asy’ari, 26/05/09
III
Di sudut pepohonan malam aku terbisu
Menatap langit-langit putih
Sayapku tergolek lemas
“Aku memang bukan ia
Yang sayapnya lebar nan panjang
Dengan sekali kelebat
Awan-awan menyingkir kalang-kabut
Gunung menjulai menjadi bukit rendah”
Godaan keindahan membuat matanya menangis
Detak jantungnya melambat seakan tak berdenyut
Bulu-bulunya merapat tak mau terbang
Langkahnya lemas pertanda tak ada kobaran api
Oh…pipit yang pincang
Mengapakah kau begitu tenggelam
Dalam kehampaan yang sungguh tiada berujung itu
Ingatlah akan kesejatianmu
Engkau bukan dia, tetapi dia bukan engkau juga
Tak sama antara sayapmu dan sayapnya
Tapi adakah kau tak tahu
Bahwa dirinya dan dirimu hanyalah titik semu
Tak ada guna kau meratap membisu
Karena ratapanmu itu hanya omong-kosong
Tak ada guna pula kau bersandar padanya
Akan rapuh hidupmu selama kau percaya seutuhnya
Ingatlah-ingatlah
Diatas langit masih ada langit
Dialah musabbib dari segala sebab
Mintalah sebab kehadirat-Nya
Sebab yang akan menjadikan hidupmu
Tak bergantung pada sebab yang lain
Hasyim Asy’ari, 27/07/09
IV
Aku ingin bernyanyi bersamamu
Wahai burung bangau
Bersenandung cinta menepis rindu
Menari berputar bersama angin
Di pepohonan itu kita memadu tangis bahagia
Meski sumbang suaraku
Karena cinta ini sebatas cipratan embun
Akan kuterbangkan bersama angin siang ini
Menuju padanya sang panutan sejati
Panutan segala makhluk di dunia
Wahai engkau yang dahulu mengendara unta
Adakah akan kau ampirkan setetes air itu
Aku ingin meneguknya meski tetes terakhir
Aku yang menginginkan usapanmu
Memberi terang di dadaku
Menghilangkan segala kabutku
Yang acapkali menghalangi
Menatap cahayamu
Aku memang rindu menatapmu
Meski kerinduanku sebatas tiupan angin
Kadang datang, kadang pula menghilang
Mungkin, belum terpatri namamu yang agung itu
Di segenap dinding jantungku
Wahai Rumi,
Iqbal di Pakistan,
Atau pun engkau Robi’ah
Ajari aku mencinta
Seperti cintanya rembulan kepada cahaya
Cintanya pujangga kepada kekasihnya
Cintanya Ibu kepada anak-anaknya
Atau seperti cintanya sang pecinta
Kepada kekasih keabadiannya
Aku ingin mencinta,
Hasyim Asy’ari, 27/07/09
V
Aku akan menjadi musafir di ujung jalan
Mencari cinta dari sisa-sisa kehidupan
Memburu cahaya yang kian memadam
Di ruang hampa ini
Ku tautkan wajahku menatap cakrawala
Kulihat deretan awan tak lagi berjajar
Malam kian bisu oleh kedirian yang fana
Kupandang sekitarku hanyalah debu beterbangan
Yang tak tahu apa isinya
Barangkali seperti itu pula diriku
Onggokan sampah tiada terjamah
Oh…pemilik kehidupan
Begitu banyak anugrah telah kau curahkan
Tapi tak secuilpun mampu kudayagunakan
Yang kubangun justru monumen-monumen keangkuhan
Yang tak tahu berapa jumlahnya
Sungguh betapa bodoh jiwa ini
Tak pernah berfikir bahwa anugrah itu
Jalan menuju cinta
Hasyim Asy’ari, 04/11/09
VI
Kalau kau bertanya padaku
Apa gerangan yang kupikirkan
Akan ku jawab, aku sedang menunggu matahari
Disini,
Di malam berliput hampa
Tatapanku sayu bernada resah
Sungguh angin telah memenjaraku
Dalam kubangan ketidakpastian
Di setiap ujung hembusannya
Bau anyir kegetiran ia muncratkan
Padang pasir nun jauh disana
Ia hadirkan menyusup gelapku
Mataku pun buta memandang sekeliling
Cahaya keemasan tertutup rapat-rapat
Hilang entah kemana kembaranya
Bintang-bintang diangkasa
Sampai-sampai mengerlipkan senyumnya
Entah, apakah ia lelah memandang dunia
Ataukah mataku yang ngilu
Tak mampu menangkap sinarnya
Sungguh aku terlelap kebimbangan
Langkahku lumpuh tertikam waktu
Hasyim Asy’ari, 5/11/09
VII
Bukanlah ledakan petir yang kutakutkan
Tetapi tusukan duri yang menyeringai jalanku
Petir menyambar menghamburkan panorama mata
Duri menusuk melubangi daging-daging
Tak terlihat mata tapi pedih terasa
Sayapku pilu jika tertikam runcingnya
Pelan tapi meyakinkan, dagingku robek dan pecah
Tanpa terbekas goresan luka menganga
Namun sakitnya sungguh membusukkan mata
Dalam getiran ini aku ingin terbang
Melintas langit tujuh rupa tanpa kata
Biarkan burung-burung manyar itu bercerocoh mencariku
Mondar-mandir dalam kebisingan senja
Berputar dalam galaksi kediriannya
Jika waktu telah berutar ke barat
Tentu mereka tahu arti keinginanku
Aku adalah pencari kata
Dibalik jelujur ayat-ayat alam
Satu demi satu kupandangi
Karya Tuhan yang maha Tinggi
Tak satu pun mereka bersedih hati
Apakah itu syair cinta yang melantunkan bait harapan
Ataukah bayangan semu yang siap menerkam
Aku pun masih terbuai dalam kebimbangan
Hasyim Asy’ari, 15 Des 09
VIII
Jelujur-jelujur hujan membelah arah angin
Dari balik awan putih meluncur laksana tombak
Hujan adalah panorama kepastian
Pertanda hidup akan basah oleh kegalauan
Akankah hujan ini membebani sayap-sayapmu
Karena runcingnya pedang terwakilkan olehnya?
Tidak!
Hujan bukanlah malaikat maut
Ia hanya secuil gerigi dari keterasingan diri
Hujan menjadi tanda
Bahwa manusia mencari yang Esa
Tapi hujan juga bisa menjelma
Dan mengubur kedirian kita
Yogyakarta, 11 Januari 2010
Malam Cinta
Daun-daun berguguran menyebut namamu
Mereka tak kuasa menahan rindu ingin bertemu
Bagai malam-malam panjang menanti musim cinta
Dawainya syahdu menari indah gemulai
Inilah malam impian
Sang kekasasih dahulu di isra’kan
Dari bumi menuju kehadirat-Nya
Tiadalah kedukaan datang
Bagi bumi yang kian lajang
Awan-awan bersuka ria di cakrawala
Angin menunda badainya
Burung pipit membaguskan kicaunya
Semua merasa bahagia
Bersama malam cinta
Hasyim Asy’ari, 25/09/09
Telapak Jiwa
Telah kutelusuri
Sungai-sungai kehidupan
Sepanjang jelujur alam
Ketika telah berlalu
Sepertiga dari umurku
Belum kutemukan telaga kejernihan
Sesak dengan air kearifan
Aku memimpikan
Halaqah-halaqah panjang
Penuh ramai gemerlap keilmuan
Dari bilik pesantren
Ingin kudengar nyanyian
Bait-bait alfiyah dan wiridan
Dari bukit mercusuar
Gemerlap universitas berpendar
Syarat dengan diskusi-diskusi tenar
Atau dari barisan kaum muda
Ingin kudengar gaungnya
Ah…
Ada-ada saja
Jangan kau mengigau
Seperti katak yang ingin terbang
Semua hanya sebatas mimpi
Berada dalam tabir kosong ruhani
Kalau tidak mawas diri
Jasadmu terpendam dalam ilusi
Tapi benarkah…
Tak bisa kutemukan
Setitik air kejernihan
Dari samudra ke-Esa-an
Akan ku tumpahkan
Dalam batin harapan
Menghilangkan haus kegelisahan
Ketika batinku ingin berkelana
Jiwaku kosong dari arah jalannya
Akan kemana kulangkahkan keinginan
Atau harus terkubur
Dalam badai angan-angan
Hasyim Asy’ari, 4 Maret 2010
Tembang Perpisahan
Kepadamu merpati putih
Di taman bunga-bunga
Angin dari timur mengabarkan salam
Pertanda insan mengobarkan doa
Teruntukmu manusia sahaja
Suatu kala kita bertemu
Dalam jamuan persaudaraan
Asyik dengan canda tawa
Kau hiasi hidupku
Dengan permadani penuh pesona
Hingga mengalir cucuran makna
Dari keriputnya cita-cita
Suatu hari itu pasti datang
Tembang perpisahan antara dua insan
Detik kepastian menuju kedirian
Telah terbuka lebar
Kawan, sungguh
Bukan perpisahan ini yang kusesalkan
Tapi ke-tercerai-an yang kutakutkan
Perpisahan menyisakan
Dendang rindu penuh cinta
Ke-tercerai-an menyisakan
Nada dendam penuh luka
Jikalau engkau musafir cinta
Kita menempuh jalan berbeda
Hanya harapku jua
Kelak berjumpa di ujung yang sama
Jangan kau menyerah pada bayang-bayang
Tunjukkan bahwa kita punya cita-cita
Semoga sukses
Wahai mahkota impian
Ayah dan Ibu membentangkan harapan
Semoga hidupmu berguna
Di hari ini dan akan datang,
Amin…
Hasyim Asy’ari, 9 Maret 2010
Jangan Hentikan Perjalanan Hidupmu Hanya Karena Melewati Jalan Yang Mungkin Tak Kau Sangka
Rabu, 10 Maret 2010
Senin, 04 Januari 2010
Prinsip Kenegaraan Rasulullah SAW
Pilpres 2009 telah usai dilaksanakan. Kini, tiba gilirannya untuk menanti siapa pemimpin yang akan menakhodai bangsa ini. Semoga saja pemimpin yang baru akan membawa wajah baru bagi kehidupan berbangsa. Beban berat yang selama ini ditanggung oleh republik ini semoga segera teratasi sehingga tampak senyum kebahagiaan di wajah ibu pertiwi.
Siapa pun pemimpinnya, ia haruslah mampu mewujudkan janji-janji yang sejak kampanye kemarin digembar-gemborkan. Amanah terhadap kepemimpinan menjadi keniscayaan agar bangsa ini lebih maju dan rakyat lebih sejahtera. Tidak dibenarkan jika pemimpin bersikap otoriter dan mendustai segala janji serta harapan bangsa. Pengalaman pahit bangsa ini telah memberi pelajaran berharga bahwa otoritarian hanya akan membawa luka berkepanjangan.
Saat ini telah sepuluh tahun lebih reformasi bergulir. Tentu saja banyak perubahan yang terjadi di sana-sini. Namun, bandul perubahan tampaknya bergerak ke kutub negatif. Banyak silang sengkarut yang makin tak karuan. Demokrasi sudah menjadi democrazy, pemerintahan korup semakin menjadi-jadi, kejahatan para mafia berdasi semakin tak terkendali, dan rakyat masihlah berdiam di tengah kehampaan.
Di tengah kondisi chaos ini, yang dibutuhkan adalah seorang pemimpin yang benar-benar kredibel dan militan. Pemimpin yang pantang menyerah dan benar-benar amanah. Bukan pemimpin yang mudah terlena dengan tahtanya dan melupakan kewajiban. Islam telah memberi referensi tentang figur pemimpin yang sukses. Adalah Rasulullah SAW, pemimpin yang diakui oleh berbagai pihak, yang telah mampu membawa bendera Islam tegak berdiri dan kokoh, tak mudah roboh. Dalam waktu 23 tahun, Rasul telah menapaki jejak gemilang. Terbukti, Islam yang posisinya minoritas karena lahir di Arab mampu berkembang ke seluruh penjuru dunia hingga saat ini.
Kepemimpinan Rasul
Kepemimpinan Rasul adalah kepemimpinan tersukses sepanjang sejarah. Tak heran jika penulis Barat, seperti Michael H Hart, begitu mengaguminya. Dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Resived and Updated for the Nineties, New York: Citadel Press Book, 1992, Michael menempatkan Rasulullah sebagai peringkat satu dari seratus tokoh. Alasannya sederhana, ”Saya memilih Muhammad sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan pembaca dan mengundang pertanyaan berbagai pihak. Akan tetapi, menurut saya, hanya dia-lah lelaki dalam sejarah yang benar-benar sukses, baik sukses di bidang keagamaan maupun sukses di bidang duniawi.”
Pengakuan Michael memang tak berlebihan karena Rasul benar-benar tipe pemimpin yang sukses. Tak hanya ia yang bersikap seperti itu. Penulis buku The Genuine Islam, George Bernard Shaw juga memberi pengakuan akan kekagumannya. Ia menulis, ”Saya telah menyelidiki secara saksama laki-laki yang menakjubkan ini. Dalam benak saya, ia (Muhammad) jauh dari sikap anti-Kritus. Bahkan, dia harus dijuluki sebagai penyelamat kemanusiaan.”
Pengakuan para penulis Barat tentang keunggulan Nabi Muhammad SAW jelas akan semakin menambah ketebalan iman umat Islam di Indonesia atau dunia untuk meniru jejak langkahnya. Apalagi, bangsa ini baru saja menggelar pesta demokrasi. Adalah suatu keniscayaan bagi pemimpin bangsa yang terpilih untuk meniru jejak langkah sang Nabi. Pola kepemimpinan yang telah diterapkannya merupakan cermin bagi keberhasilan dan kemajuan bangsa.
Prinsip Kenegaraan
Dalam buku Hayatu Muhammad karya Muhammad Husein Haikal dan juga dalam buku-buku sejarah Nabi yang lainnya, banyak disebutkan tentang prinsip-prinsip kenegaraan yang diterapkan oleh Rasul ketika beliau menjadi pemimpin di Madinah. Prinsip-prinsip itu sebagai berikut. Pertama, persaudaraan dan persahabatan. Setibanya Rasul di Madinah, beliau langsung membangun solidaritas kebangsaan di antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau banyak mempersaudarakan para sahabatnya, di antaranya Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bersaudara dengan Itban bin Malik al-Kharaji, Hamzah bersaudara dengan Zaid bekas budaknya, dan masih banyak yang lain.
Adapun dengan kaum Yahudi, seperti Bani Nadir, Bani Kainuqa, Bani Quzaifah, dan Bani Khaibar, Rasul menjalin persahabatan. Perjanjian antara ia dan kaum Yahudi pun dibuat yang intinya bekerja bersama-sama menjaga keutuhan negara Madinah dengan saling menghormati, menghargai, dan tidak saling menyakiti.
Prinsip yang dibangun Rasul ini sangat efektif untuk mempersatukan kaum Muhajirin dan Ansar sehingga mereka bahu-membahu dan kompak dalam satu cita-cita. Juga terhadap kabilah Yahudi saat itu, Rasul mampu mengajak kerja sama. Jika saja pemimpin Indonesia yang baru saja terpilih mampu menjalin solidaritas yang hangat dengan rakyatnya, tanpa memandang suku, agama, ras, dan budaya, tentu keutuhan NKRI akan mudah terjaga. Aksi separatisme yang masih marak, seperti di Irian Jaya atau kasus serupa GAM, tentu tidak lagi muncul.
Kedua, membangun perekonomian. Berkat persaudaraan yang telah digariskan Rasul, pintu perekonomian juga terkena imbasnya. Kaum Muhajirin yang saat datang ke Madinah tidak membawa bekal apa pun segera memperoleh pekerjaan. Abu Bakar, Umar, dan Ali, misalnya, begitu ke Madinah mereka segera memperoleh garapan sawah dari kaum Ansar. Adapun Abdurrahman bin Auf bisa memainkan roda perekonomiannya di pasar berkat jasa Sa’d bin ar-Rabi. Berkat adanya pintu perekonomian ini, kaum Muslim mampu menikmati kesejahteraan (welfare) dan enjoy (menikmati) hidup.
Semestinya, seperti inilah para pemimpin kita bertindak. Kesejahteraan sosial (social welfare) menjadi fokus utama yang harus dipikirkan dan diberikan. Bayangkan saja, betapa masih banyak warga miskin yang menghuni negeri ini. Pada 2008, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa jumlah penduduk miskin adalah 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk Indonesia. Data itu pun masih banyak diperdebatkan karena data disusun sebelum kenaikan BBM. Angka kemiskinan yang masih menggelembung ini jelas mengharuskan seorang pemimpin untuk menciptakan policy (kebijakan) yang tepat agar kemiskinan segera teratasi.
Dua prinsip kenegaraan yang dibekalkan Rasul di atas jika mampu diimplementasikan oleh presiden yang baru saja terpilih, tentu akan membawa kemaslahatan bagi bangsa ini. Dan, tentu masih banyak prinsip yang lain, seperti toleransi, kerja sama, keadilan, gotong-royong, dan lainnya. Semua itu adalah mutiara berharga yang semoga mampu dijadikan referensi bagi para pemimpin bangsa.
Siapa pun pemimpinnya, ia haruslah mampu mewujudkan janji-janji yang sejak kampanye kemarin digembar-gemborkan. Amanah terhadap kepemimpinan menjadi keniscayaan agar bangsa ini lebih maju dan rakyat lebih sejahtera. Tidak dibenarkan jika pemimpin bersikap otoriter dan mendustai segala janji serta harapan bangsa. Pengalaman pahit bangsa ini telah memberi pelajaran berharga bahwa otoritarian hanya akan membawa luka berkepanjangan.
Saat ini telah sepuluh tahun lebih reformasi bergulir. Tentu saja banyak perubahan yang terjadi di sana-sini. Namun, bandul perubahan tampaknya bergerak ke kutub negatif. Banyak silang sengkarut yang makin tak karuan. Demokrasi sudah menjadi democrazy, pemerintahan korup semakin menjadi-jadi, kejahatan para mafia berdasi semakin tak terkendali, dan rakyat masihlah berdiam di tengah kehampaan.
Di tengah kondisi chaos ini, yang dibutuhkan adalah seorang pemimpin yang benar-benar kredibel dan militan. Pemimpin yang pantang menyerah dan benar-benar amanah. Bukan pemimpin yang mudah terlena dengan tahtanya dan melupakan kewajiban. Islam telah memberi referensi tentang figur pemimpin yang sukses. Adalah Rasulullah SAW, pemimpin yang diakui oleh berbagai pihak, yang telah mampu membawa bendera Islam tegak berdiri dan kokoh, tak mudah roboh. Dalam waktu 23 tahun, Rasul telah menapaki jejak gemilang. Terbukti, Islam yang posisinya minoritas karena lahir di Arab mampu berkembang ke seluruh penjuru dunia hingga saat ini.
Kepemimpinan Rasul
Kepemimpinan Rasul adalah kepemimpinan tersukses sepanjang sejarah. Tak heran jika penulis Barat, seperti Michael H Hart, begitu mengaguminya. Dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Resived and Updated for the Nineties, New York: Citadel Press Book, 1992, Michael menempatkan Rasulullah sebagai peringkat satu dari seratus tokoh. Alasannya sederhana, ”Saya memilih Muhammad sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan pembaca dan mengundang pertanyaan berbagai pihak. Akan tetapi, menurut saya, hanya dia-lah lelaki dalam sejarah yang benar-benar sukses, baik sukses di bidang keagamaan maupun sukses di bidang duniawi.”
Pengakuan Michael memang tak berlebihan karena Rasul benar-benar tipe pemimpin yang sukses. Tak hanya ia yang bersikap seperti itu. Penulis buku The Genuine Islam, George Bernard Shaw juga memberi pengakuan akan kekagumannya. Ia menulis, ”Saya telah menyelidiki secara saksama laki-laki yang menakjubkan ini. Dalam benak saya, ia (Muhammad) jauh dari sikap anti-Kritus. Bahkan, dia harus dijuluki sebagai penyelamat kemanusiaan.”
Pengakuan para penulis Barat tentang keunggulan Nabi Muhammad SAW jelas akan semakin menambah ketebalan iman umat Islam di Indonesia atau dunia untuk meniru jejak langkahnya. Apalagi, bangsa ini baru saja menggelar pesta demokrasi. Adalah suatu keniscayaan bagi pemimpin bangsa yang terpilih untuk meniru jejak langkah sang Nabi. Pola kepemimpinan yang telah diterapkannya merupakan cermin bagi keberhasilan dan kemajuan bangsa.
Prinsip Kenegaraan
Dalam buku Hayatu Muhammad karya Muhammad Husein Haikal dan juga dalam buku-buku sejarah Nabi yang lainnya, banyak disebutkan tentang prinsip-prinsip kenegaraan yang diterapkan oleh Rasul ketika beliau menjadi pemimpin di Madinah. Prinsip-prinsip itu sebagai berikut. Pertama, persaudaraan dan persahabatan. Setibanya Rasul di Madinah, beliau langsung membangun solidaritas kebangsaan di antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau banyak mempersaudarakan para sahabatnya, di antaranya Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bersaudara dengan Itban bin Malik al-Kharaji, Hamzah bersaudara dengan Zaid bekas budaknya, dan masih banyak yang lain.
Adapun dengan kaum Yahudi, seperti Bani Nadir, Bani Kainuqa, Bani Quzaifah, dan Bani Khaibar, Rasul menjalin persahabatan. Perjanjian antara ia dan kaum Yahudi pun dibuat yang intinya bekerja bersama-sama menjaga keutuhan negara Madinah dengan saling menghormati, menghargai, dan tidak saling menyakiti.
Prinsip yang dibangun Rasul ini sangat efektif untuk mempersatukan kaum Muhajirin dan Ansar sehingga mereka bahu-membahu dan kompak dalam satu cita-cita. Juga terhadap kabilah Yahudi saat itu, Rasul mampu mengajak kerja sama. Jika saja pemimpin Indonesia yang baru saja terpilih mampu menjalin solidaritas yang hangat dengan rakyatnya, tanpa memandang suku, agama, ras, dan budaya, tentu keutuhan NKRI akan mudah terjaga. Aksi separatisme yang masih marak, seperti di Irian Jaya atau kasus serupa GAM, tentu tidak lagi muncul.
Kedua, membangun perekonomian. Berkat persaudaraan yang telah digariskan Rasul, pintu perekonomian juga terkena imbasnya. Kaum Muhajirin yang saat datang ke Madinah tidak membawa bekal apa pun segera memperoleh pekerjaan. Abu Bakar, Umar, dan Ali, misalnya, begitu ke Madinah mereka segera memperoleh garapan sawah dari kaum Ansar. Adapun Abdurrahman bin Auf bisa memainkan roda perekonomiannya di pasar berkat jasa Sa’d bin ar-Rabi. Berkat adanya pintu perekonomian ini, kaum Muslim mampu menikmati kesejahteraan (welfare) dan enjoy (menikmati) hidup.
Semestinya, seperti inilah para pemimpin kita bertindak. Kesejahteraan sosial (social welfare) menjadi fokus utama yang harus dipikirkan dan diberikan. Bayangkan saja, betapa masih banyak warga miskin yang menghuni negeri ini. Pada 2008, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa jumlah penduduk miskin adalah 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk Indonesia. Data itu pun masih banyak diperdebatkan karena data disusun sebelum kenaikan BBM. Angka kemiskinan yang masih menggelembung ini jelas mengharuskan seorang pemimpin untuk menciptakan policy (kebijakan) yang tepat agar kemiskinan segera teratasi.
Dua prinsip kenegaraan yang dibekalkan Rasul di atas jika mampu diimplementasikan oleh presiden yang baru saja terpilih, tentu akan membawa kemaslahatan bagi bangsa ini. Dan, tentu masih banyak prinsip yang lain, seperti toleransi, kerja sama, keadilan, gotong-royong, dan lainnya. Semua itu adalah mutiara berharga yang semoga mampu dijadikan referensi bagi para pemimpin bangsa.
* Dimuat di REPUBLIKA, Kamis, 09 Juli 2009
Oleh : Fatkhul Anas
Langganan:
Postingan (Atom)