Senin, 04 Januari 2010

Banjir Darah di Timor Timur


Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional
Judul : Pembantaian Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional
Penulis: Joseph Nevins
Penerbit : Galang Press
Tahun: 2008
Genre : Sejarah
Tebal: 375 Halaman
ISBN: 978-602-8174-05


Dahulu wilayah Timor Timur sempat menjadi provinsi termuda di Indonesia. Namun, setelah jajak pendapat dan banyak warga yang menghendaki lepas dari wilayah NKRI, Timor Timur akhirnya memilih menjemput kemerdekaannya. Tepat pada 20 Mei 2002 Timor Timur menghibarkan bendera kemerdekaan setelah penyerahan pemerintahan oleh UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor – Pemerintahan Peralihan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Timur) kepada Kepala Pemerintahan terpilih.
Selepas merdeka, bangsa Timor Timur sedikit bernafas lega. Kebebasan, perdamaian, ketenangan, serta harapan-harapan menatap masa depan mulai terpancar dari wajah-wajah anak-anak bangsa. Namun, sesekali hela nafas mereka diselimuti kecemasan, perasaan takut, serta trauma yang mendalam. Mereka begitu tercekam perasannya ketika teringat peristiwa masa lalu. Darah membanjir, nyawa melayang, jeritan tangis anak-anak dan wanita memecah kesunyian, beribu rumah dibakar, dan beribu orang mencari perlindungan. Timor Timur benar-benar dalam penderitaan. Dan keadaan itu terus berlanjut sampai saat mereka menerobos lorong kemerdekaan.
Tragedi yang begitu pilu dan mengiris jiwa sehingga tak sepatah kata pun mampu mengungkap kegetirannya akan dikupas tuntas dalam buku ini. Buku dengan judul Pembantain Timor Timur; Horor Masyarakat Internasional yang ditulis Joseph Nevins ini adalah sebuah rekaman sejarah yang diperoleh penulisnya lewat penelusuran panjang. Joseph Nevins rela menghabiskan waktunya untuk menelusuri lorong-lorong, gang-gang, serta jalanan lengang di Timor Timur untuk mencatat fakta dan mencari sejarah. Ia juga mendatangi sejumlah rumah, gereja, dan tempat-tempat yang pernah terluka serta melakukan wawancara dengan sejumlah penduduk kampung untuk mencari keterangan. Bahkan tak segan-segan ia menelusuri sumber-sumber data Internasional dari perwakilan PBB yang ada di sana.

Tragedi Berdarah
Semenjak Timor Timur lepas dari cengkeraman Portugis, aroma kecemasan tidak seketika berakhir. Timor Timur harus menghadapi sejumlah agenda kekejaman dari para tentara Republik Indonesia. Terbilang, kekejaman yang paling banyak membawa korban adalah periode September-Oktober 1999. Periode ini adalah masa di mana Timor Timur melakukan jajak pendapat. Awalnya, jajak pendapat dilakukan setelah Presiden BJ. Habibie mengeluarkan sebuah referendum pada 27 Januari 1999. Dalam referendum tersebut BJ. Habibie menawarkan dua opsi yaitu memberikan otonomi khusus atau melepas Timor Timur dari NKRI.
Setelah referendum dikeluarkan, pada 4 September 1999 hasil jajak pendapat diumumkan. Ternyata 78,5% dari 98% rakyat Timor Timur yang memberikan suara, menyatakan memilih merdeka dan lepas dari wilayah NKRI. Hal ini membuat pihak RI kebakaran jenggot. Aksi kekerasan akhirnya terjadi di mana-mana. Terhitung mulai dari pembunuhan, pembumi-hangusan, penjarahan, penyiksaan, pengungsian besar-besaran sampai aksi pemerkosaan banyak dilakukan oleh TNI dan para milisi (pasukan bentukan TNI) terhadap rakyat Timor Timur. Mereka juga sering melakukan pembantaian massal tanpa ampun. Komisi Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor Timur yang dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melaporkan setidaknya lebih dari seribu orang pada kurun waktu September-Oktober 1999 yang menjadi korban pembunuhan.
Di awal April dan akhir September 1999, banyak orang Timor Timur mengalami luka akibat serangan milisi, khususnya di wilayah Covalima, Bobonaro, Ermera, Liquiça, dan Dili. Laporan dari FOKUPERS juga menyebut ada 182 kasus pelanggaran hak asasi manusia berdasar gender. Kasus ini meliputi perkosaan, penculikan, dan beberapa kasus perbudakan. Keadaan juga semakin parah ketika 250.000 orang Timor Timur dipaksa diangkut ke Indonesia, sebagian besar ke wilayah Timor Barat. Mereka tidak boleh pulang ke kampung. Jika ada yang membangkang, nyawa siap melayang. Nasib tragis serupa juga menimpa lebih dari 200.000 orang Timor Timur. Mereka dipaksa melarikan diri ke gunung-gunung. Praktis kelaparan segera menjadi jurang maut karena masa itu adalah masa kemarau. Sangat sulit ditemukan makanan alami. Akhirya pelan-pelan mereka pun mati mengenaskan (hal 149).

Timor Timur Setelah Merdeka
Baru pada 20 Mei 2002 rakyat Timor Timur sedikit bernafas lega. Setelah UNTAET menyerahkan pemerintahan Timor Timur kepada Kepala Pemerintahan terpilih, Timor Timur mulai melakukan pembenahan diri. Namun, sampai sejauh itu Timor Timur belum mampu menikmati kebahagiaan. Aroma traumatis serta kepedihan yang mendalam masih menusuk jantung kegembiraan masyarakat. Bekas-bekas penganiayaan, pembunuhan massal, serta porak-poranda rumah-rumah penduduk masih menjadi teror mencekam di malam maupun siang hari. Kondisi ekonomi yang belum stabil menjadikan negeri itu kampung para pengemis yang setiap hari harus mengais rizki dari bantuan kemanusiaan. Luka yang masih menganga ditubuh para korban kekerasan, pemerkosaan, serta penganiayaan juga masih menyisakan trauma berkepanjangan.
Terlebih masyarakat Internasional yang juga tidak sepenuhnya peduli dengan Timor Timur, menjadikan luka di negeri itu bertambah menganga. Masyarakat Internasional ternyata lebih mencari ajang di muka dunia agar disebut sebagai pahlawan penegak HAM dari pada memikirkan nasib Timor Timur. Pada akhir 2002 misalnya, Presiden Amerika Serikat Jimmy Charter mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian. Padahal dialah yang datang ke Jakarta untuk memberikan bantuan pesenjataan serta membantu TNI membunuh puluhan ribu orang Timor Timur pada akhir dasawarsa 1970-an. Lebih parah lagi Australia. Setelah Timor Timur lepas dari Indonesia, agenda-agenda eksploitasi sumber daya alam dikucurkan dengan lancarnya. Tanpa ada pihak yang menghalangi aksi pencurian itu (hal.281).
Nasib Timor Timur memang begitu Tragis. Semenjak dahulu belum pernah ada kesempatan untuk menikmati sejenak keindahan udara pagi. Setiap hari dan setiap waktu hanya ada tangisan kepedihan yang mengiringi. Kelaparan, gizi buruk, pengangguran, wabah penyakit, masih menjadi makanan sehari-hari mereka. Akankah nasib Timor Timur akan seperti itu selamanya?

* Dimuat di Koran Jakarta,
Oleh : Fatkhul Anas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar